The story of my first three months life in Paris
Jan 29, '05 - 10:34 AM
Dear all,
This is the story of my first three months life in Paris.
Gue pergi dengan kondisi tanpa scholarship, jadi:
1. Finansial - gue kerja sendiri di Jakarta itu, dapet 2400 euros, and pinjam teman 3000 euros yang mesti gue kembalikan utuh (tanpa bunga, alhamdulillah) bulan Juni 2005.
2. Akomodasi - ada laki-laki Prancis yang istrinya orang Indonesia and meninggal karena leukimia, yang ingin anaknya (9 thn) nggak kehilangan keindonesiaannya so dia cari orang Indonesia yang mau bantu ngurusin anaknya - that orang Indonesia yang dia cari WAS me. So gue (tadinya) akan tinggal di rumah beliau ini, ngurus anaknya.
Saat berangkat:
1. Pesawat KLM gue terlambat 3 jam, nangkring di bandara Soekarno-Hatta.
2. Of course I missed the connecting flight Amsterdam-Paris.
3. Bagasi gue dua bendol nggak ikut gue, dengan kata lain: nyasar, mack! - untung nyasar, jadi dianterin petugas AirFrance sampai ke rumah. Hihi.
Sampai di Paris:
1. Gue dijemput Michel, sponsor gue itu.
2. Gue dikasih kamar dengan komputer yang lengkap: internet, printer, and scanner.
3. Gue dipinjamkan HP almarhumah istrinya.
4. Gue dikasih langganan tiket transport yang bikin gue bisa naik-turun bus-metro-RER-SNCF sampai zone 4 (fyi, the center of Paris letaknya cuma di zone 1 & 2, sekolah gue di zone 3, rumah gue -waktu itu- di zone 4).
Keluarganya Michel:
1. Anaknya, Claire, cantik banget, tingginya ya setinggi gue. Ngomongnya bahasa Indonesia lancar, jauuuuh lebih lancar dari Michel. Sepertinya memang Michel mengharuskan dia untuk bicara bahasa Indonesia sama gue.
2. Ada si mamie, ibunya Michel, yang baik banget, yang suka dateng kalau Michel butuh orang untuk menjaga anaknya. Juga ada si papie yang also a very kind person. These two person don't speak either Indonesia nor English.
3. Michel anak tunggal, si Claire jadi cucu satu-satunya, baik dari keluarganya Michel maupun dari keluarga si istri.
Begitu gue mengurus sekolah (awal Oktober):
1. Jadual kuliah bentrok dengan jadual gue ngurusin Claire.
2. Waktu gue terpaksa pindah jurusan karena research director gue ada di department yang lain dari yang gue pilih sebelumnya, jadual kuliah tetap parah. Dan Michel nggak mau gue ngalahin sekolah gue demi Claire. Buat dia, gue datang ke sini buat sekolah.
3. Satu-satunya jalan keluar adalah cari pengganti gue untuk ngurusin Claire. Michel yang baik itu masih bantu gue dengan segala surat-surat yang gue perlu untuk mengurus civil administration jadi gue terdaftar di Prancis atas tanggung-jawab beliau ini.
So the first three weeks, I've been working on:
1. Getting the university's administration done to get my student card.
2. Ke Bank buka account - yang nggak segampang buka account di Jakarta (ugh!).
3. With student card and bank account, etc, I did the civic administration to get the residence permit.
4. Finding a new place to stay.
5. Getting clothes to prepare myself for winter - ini pinjem aja sama temen-temen di sini.
Problems I faced:
1. For getting the student card
a. Petugas administrasinya nggak menyimpan file gue dengan baik so gue bermasalah dengan equivalence diplomes.
b. Si penanggung jawab doctorate program yang mesti tandatangan validasi equivalence itu pergi ke Jepang.
2. For finding a new place to stay
a. Gue cuma punya tabungan mepet yang jelas bakalan abis karena gue harus bayar sewa kamar and the meal myself.
b. The above jelas berhubungan dengan how to get some money to live on.
Problem 'solved':
1. For getting the student card
Gue bilang profesor gue, yang notabene adalah seorang cyber-anthropologist yang juga research director gue and penanggung jawab program preliminary year for the doctorate degree, bahwa gue dapat undangan ke -mestinya- San Fransisco untuk presentasi di Asosiasi Antropologi Amerika, November itu (this is not a lie, anyway, meskipun ada masalah besar yang terus akhirnya dipindah ke Atlanta Desember kemarin). And gue harus dapet residence permit untuk bisa balik ke Paris nantinya (cuma dengan temporary permit, French government akan menolak gue balik ke Prancis). Dan residence permit baru bisa gue dapat kalau gue punya student card. Then, you know what happened? He called here and there, got an okay from his boss (eh, di sekolah nggak ada sebutan boss, ya) to sign my documents as a representatif for Jean-Pierre Balpe yang ke Jepang itu, and I got my student card within an hour!
2. For finding a new place to stay
Gue udah menemukan kamar yang cuma 12 menit naik bus ke kampus, di apartemen orang Indonesia yang menikah dengan peneliti Prancis, yang dua-duanya sekarang tinggal di Indonesia. The apartment has 3 bedrooms. Satu udah diisi anak Surabaya (laki, 27 thn) yang sekolah desain dengan beasiswa dari orangtuanya. ;-) Satu lagi buat gue, satu lagi memang harus kosong, untuk yang punya apartment kalau datang ke sana. Tempatnya enak, ya namanya apartment, ada kamar mandi ber-bathtub, and dapurnya lengkap dengan mesin cuci, microwave, and oven. Di sekitar apartment itu juga ramai. Begitu ke luar apartment, ada tukang jual buah and sayuran plus tetek bengek lain, jalan sedikit ada toko baju, restoran Turki, pizzaria, and so on. Cuma sayangnya: mahal, considering gue nggak punya uang and pekerjaan. But the later ini agaknya bukan terminologi baru buat gue. I'm used to it, now. The environment here in Paris is very different. But I believe on one thing: Tuhan udah kasih gue hidup, masa' Dia nggak kasih gue makan, sih? ;-) November kemarin gue sempat menerima uang lumayan karena majalah Tempo minta bantuan gue untuk report soal Arafat yang sekarat di Paris. Udah baca? Kalau nggak salah, November minggu pertama, dan kisah otobiografinya juga, entah di nomor berapa.
So, teman-teman, gue emang stress berat 3 minggu pertama itu. Tapi sekarang ini, sesudah 3 bulan, gue udah dapat temporary residence permit and pindah ke apartemen baru - meskipun urusan dari temporary residence permit ke residence permit yang ‘betulan’ itu juga susah banget, apalagi karena gue pindah rumah (jadi gue juga nggak bisa pergi ke Atlanta untuk presentasi di Asosiasi Antropologi Amerika).
Kuliah udah mau habis semesterannya, nih. Kalau lagi kuliah, seru banget, karena bule-bule itu ngomongnya cepat banget dan nggak ada yang tau bahwa gue sering bengong kalau udah mulai diskusi sahut-sahutan. Hihihi... Tapi sebelum tahun baru kemarin, profesor gue memuji gue atas pemikiran gue yang 'very organized and very sistematic.' Weeeeiiii! Ajaran yang udah mendarah daging sebagai hasil kerja di periklanan yang selalu dikejar deadline that made us have to organize all things sistematically and... fast!
And as my administration things are -almost- done, I can start thinking about how to get a (good) job - kalau ada yang bisa gue kerjakan online dari sini, bilang-bilang, ya. Kemarin-kemarin emang capek berat. Stress, dingin, and leher udah terasa sakit mau flu. Daripada winter ini cuma bisa ngendon di tempat tidur, mending gue makan terus. Konsekuensinya, duit gue habis. Dua kartu citibank sekarang sudah jebol, gue nggak bisa pakai lagi. Ugh!
Well... that's it! The story of my first 3 months life in Paris! Wish me the best luck to gain some more money to live. It won't be easy karena untuk kerja, gue harus punya work permit. Untuk memperoleh work permit, gue harus punya residence permit (which I'm not sure when I can get it). Dan as a student, harus ada juga surat resmi dari sekolah. My God! It's a long list of rules! But I believe I can make it. As Napoleon Bonaparte said: Nothing's easy, but nothing's impossible!
Love,
nuri,-
Dear all,
This is the story of my first three months life in Paris.
Gue pergi dengan kondisi tanpa scholarship, jadi:
1. Finansial - gue kerja sendiri di Jakarta itu, dapet 2400 euros, and pinjam teman 3000 euros yang mesti gue kembalikan utuh (tanpa bunga, alhamdulillah) bulan Juni 2005.
2. Akomodasi - ada laki-laki Prancis yang istrinya orang Indonesia and meninggal karena leukimia, yang ingin anaknya (9 thn) nggak kehilangan keindonesiaannya so dia cari orang Indonesia yang mau bantu ngurusin anaknya - that orang Indonesia yang dia cari WAS me. So gue (tadinya) akan tinggal di rumah beliau ini, ngurus anaknya.
Saat berangkat:
1. Pesawat KLM gue terlambat 3 jam, nangkring di bandara Soekarno-Hatta.
2. Of course I missed the connecting flight Amsterdam-Paris.
3. Bagasi gue dua bendol nggak ikut gue, dengan kata lain: nyasar, mack! - untung nyasar, jadi dianterin petugas AirFrance sampai ke rumah. Hihi.
Sampai di Paris:
1. Gue dijemput Michel, sponsor gue itu.
2. Gue dikasih kamar dengan komputer yang lengkap: internet, printer, and scanner.
3. Gue dipinjamkan HP almarhumah istrinya.
4. Gue dikasih langganan tiket transport yang bikin gue bisa naik-turun bus-metro-RER-SNCF sampai zone 4 (fyi, the center of Paris letaknya cuma di zone 1 & 2, sekolah gue di zone 3, rumah gue -waktu itu- di zone 4).
Keluarganya Michel:
1. Anaknya, Claire, cantik banget, tingginya ya setinggi gue. Ngomongnya bahasa Indonesia lancar, jauuuuh lebih lancar dari Michel. Sepertinya memang Michel mengharuskan dia untuk bicara bahasa Indonesia sama gue.
2. Ada si mamie, ibunya Michel, yang baik banget, yang suka dateng kalau Michel butuh orang untuk menjaga anaknya. Juga ada si papie yang also a very kind person. These two person don't speak either Indonesia nor English.
3. Michel anak tunggal, si Claire jadi cucu satu-satunya, baik dari keluarganya Michel maupun dari keluarga si istri.
Begitu gue mengurus sekolah (awal Oktober):
1. Jadual kuliah bentrok dengan jadual gue ngurusin Claire.
2. Waktu gue terpaksa pindah jurusan karena research director gue ada di department yang lain dari yang gue pilih sebelumnya, jadual kuliah tetap parah. Dan Michel nggak mau gue ngalahin sekolah gue demi Claire. Buat dia, gue datang ke sini buat sekolah.
3. Satu-satunya jalan keluar adalah cari pengganti gue untuk ngurusin Claire. Michel yang baik itu masih bantu gue dengan segala surat-surat yang gue perlu untuk mengurus civil administration jadi gue terdaftar di Prancis atas tanggung-jawab beliau ini.
So the first three weeks, I've been working on:
1. Getting the university's administration done to get my student card.
2. Ke Bank buka account - yang nggak segampang buka account di Jakarta (ugh!).
3. With student card and bank account, etc, I did the civic administration to get the residence permit.
4. Finding a new place to stay.
5. Getting clothes to prepare myself for winter - ini pinjem aja sama temen-temen di sini.
Problems I faced:
1. For getting the student card
a. Petugas administrasinya nggak menyimpan file gue dengan baik so gue bermasalah dengan equivalence diplomes.
b. Si penanggung jawab doctorate program yang mesti tandatangan validasi equivalence itu pergi ke Jepang.
2. For finding a new place to stay
a. Gue cuma punya tabungan mepet yang jelas bakalan abis karena gue harus bayar sewa kamar and the meal myself.
b. The above jelas berhubungan dengan how to get some money to live on.
Problem 'solved':
1. For getting the student card
Gue bilang profesor gue, yang notabene adalah seorang cyber-anthropologist yang juga research director gue and penanggung jawab program preliminary year for the doctorate degree, bahwa gue dapat undangan ke -mestinya- San Fransisco untuk presentasi di Asosiasi Antropologi Amerika, November itu (this is not a lie, anyway, meskipun ada masalah besar yang terus akhirnya dipindah ke Atlanta Desember kemarin). And gue harus dapet residence permit untuk bisa balik ke Paris nantinya (cuma dengan temporary permit, French government akan menolak gue balik ke Prancis). Dan residence permit baru bisa gue dapat kalau gue punya student card. Then, you know what happened? He called here and there, got an okay from his boss (eh, di sekolah nggak ada sebutan boss, ya) to sign my documents as a representatif for Jean-Pierre Balpe yang ke Jepang itu, and I got my student card within an hour!
2. For finding a new place to stay
Gue udah menemukan kamar yang cuma 12 menit naik bus ke kampus, di apartemen orang Indonesia yang menikah dengan peneliti Prancis, yang dua-duanya sekarang tinggal di Indonesia. The apartment has 3 bedrooms. Satu udah diisi anak Surabaya (laki, 27 thn) yang sekolah desain dengan beasiswa dari orangtuanya. ;-) Satu lagi buat gue, satu lagi memang harus kosong, untuk yang punya apartment kalau datang ke sana. Tempatnya enak, ya namanya apartment, ada kamar mandi ber-bathtub, and dapurnya lengkap dengan mesin cuci, microwave, and oven. Di sekitar apartment itu juga ramai. Begitu ke luar apartment, ada tukang jual buah and sayuran plus tetek bengek lain, jalan sedikit ada toko baju, restoran Turki, pizzaria, and so on. Cuma sayangnya: mahal, considering gue nggak punya uang and pekerjaan. But the later ini agaknya bukan terminologi baru buat gue. I'm used to it, now. The environment here in Paris is very different. But I believe on one thing: Tuhan udah kasih gue hidup, masa' Dia nggak kasih gue makan, sih? ;-) November kemarin gue sempat menerima uang lumayan karena majalah Tempo minta bantuan gue untuk report soal Arafat yang sekarat di Paris. Udah baca? Kalau nggak salah, November minggu pertama, dan kisah otobiografinya juga, entah di nomor berapa.
So, teman-teman, gue emang stress berat 3 minggu pertama itu. Tapi sekarang ini, sesudah 3 bulan, gue udah dapat temporary residence permit and pindah ke apartemen baru - meskipun urusan dari temporary residence permit ke residence permit yang ‘betulan’ itu juga susah banget, apalagi karena gue pindah rumah (jadi gue juga nggak bisa pergi ke Atlanta untuk presentasi di Asosiasi Antropologi Amerika).
Kuliah udah mau habis semesterannya, nih. Kalau lagi kuliah, seru banget, karena bule-bule itu ngomongnya cepat banget dan nggak ada yang tau bahwa gue sering bengong kalau udah mulai diskusi sahut-sahutan. Hihihi... Tapi sebelum tahun baru kemarin, profesor gue memuji gue atas pemikiran gue yang 'very organized and very sistematic.' Weeeeiiii! Ajaran yang udah mendarah daging sebagai hasil kerja di periklanan yang selalu dikejar deadline that made us have to organize all things sistematically and... fast!
And as my administration things are -almost- done, I can start thinking about how to get a (good) job - kalau ada yang bisa gue kerjakan online dari sini, bilang-bilang, ya. Kemarin-kemarin emang capek berat. Stress, dingin, and leher udah terasa sakit mau flu. Daripada winter ini cuma bisa ngendon di tempat tidur, mending gue makan terus. Konsekuensinya, duit gue habis. Dua kartu citibank sekarang sudah jebol, gue nggak bisa pakai lagi. Ugh!
Well... that's it! The story of my first 3 months life in Paris! Wish me the best luck to gain some more money to live. It won't be easy karena untuk kerja, gue harus punya work permit. Untuk memperoleh work permit, gue harus punya residence permit (which I'm not sure when I can get it). Dan as a student, harus ada juga surat resmi dari sekolah. My God! It's a long list of rules! But I believe I can make it. As Napoleon Bonaparte said: Nothing's easy, but nothing's impossible!
Love,
nuri,-

0 Comments:
<< Home